Merawat Raja Rimba
03 Feb 2024 / Admin
JHS - Eksistensi Harimau Sumatera kian terancam. Kehidupannya semakin terdesak oleh pelbagai ancaman. Habitat menyusut, populasi berkurang. Banyak konflik dengan manusia yang kemudian berujung pada kematian.
Beberapa catatan, Empat konflik Harimau Sumatera terjadi dalam rentang waktu Empat tahun terakhir. Harimau memasuki pemukiman, menyerang dan memangsa hewan ternak warga bahkan merenggut korban jiwa. Siapa yang salah ?
28 Maret 2020. Sekira pukul 16.00 WIB, seorang pekerja lapangan melihat Harimau Sumatera dalam kondisi tak berdaya di area Estate Meranti, Teluk Meranti, Pelalawan, Riau. Kaki kanannya terjerat sling yang dipasang pemburu.
Harimau berjenis kelamin betina yang kemudian diberi nama Corina ini, di evakuasi siang sekira pukul 12.30 WIB kesekokan harinya. Tim medis Balai Besar KSDA Riau berhasil membuka jerat yang mengikat pada kaki kanan Corina.
Kondisi yang terus memburuk, memaksa Corina yang saat itu diperkirakan berusia 3 tahun dengan bobot 77,8 kilogram ini, harus menjalani perawatan dan rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRH-SD).
Masih ditahun yang sama, seekor Harimau Sumatera kembali masuk ke box trap yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat pada Juni 2020, setelah beberapa hari berkeliaran di ladang dan permukiman penduduk di Nagari Gantung Ciri Kabupaten Solok.
Setelah dievakuasi dan direhabilitasi selama 5 bulan di PRHSD, Harimau jantan yang diberi nama Putra Singgulung itu, di lepasliarkan kembali ke habitatnya. Tepatnya pada 26 November 2020. Namun pada minggu pertama Desember 2020, ia kembali di evakuasi tak jauh dari lokasi pelepasliaran.
Setahun setelahnya, tim gabungan Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) dan Balai Besar KSDA Riau kembali mengevakuasi Harimau Sumatera dari Desa Teluk Lanus, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, September 2021 tepatnya setelah beberapa pekan terakhir terlibat konflik dengan manusia bahkan merenggut nyawa seorang bocah berusia 13 tahun bernama Malta Alfarel Nduru. Harimau ini diberi nama Lanustika.
Lanustika awal-awal masuk ke PR-HSD, ditemukan adanya luka bekas terkena sling jerat pada kaki kanan. Luka itu, cukup serius bahkan terindikasi adanya investasi myiasis atau larva. Lanustika pun menjalani operasi pengangkatan myiasis. Jika tidak berdampak pada kesehatannya bahkan bisa berujung pada kematian.
Jelang Perayaan Idul Adha 1443 Hijriah, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat Resor Agam dan Pasaman Barat berhasil mengevakuasi Harimau betina dari area perkebunan kepala sawit milik PT. Pasaman Marama Sejahtera (PMS), di Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat.
Harimau Betina yang kemudian diberi nama Kanti Marama itu, masuk ke kandang jebak yang dipasang usai menampakkan diri. Ia sempat menjalani observasi di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi sebelum kemudian beberapa pekan kedepan di lepasliarkan Kembali ke habitat nya.
Kini, Corina, Lanustika dan Kanti Marama sudah kembali ke rumah yang sungguhnya. Semoga ketiga individu ini, terus menjauh dari hutan beton. Mampu bertahan ditengah derasnya deforestasi dan aktifitas perburuan. Tinggallah Putra Singgulung yang masih menjalani rehabilitasi di PRH-SD.
Foto ini, merupakan salah satu hasil penelusuran, dokumentasi dan artefak dari perjalanan panjang kita merekam pelbagai aktifitas penanganan konflik hingga bagaimana aktifitas dokter hewan merawat, mengembalikan insting liar dan me-release kembali ke habitat aslinya.
Bicara soal Harimau Sumatera, kadung melekat tentang naratif legenda mitologi yang terus hidup dan berkembang ditengah masyarakat hingga mengandung nilai atau dimensi spiritual. Ia dianggap sosok kharismatik, dituakan bahkan sungguh dihormati. Begitu benarlah.
Harimau Sumatera tak lagi sekedar dipandang sebagai satwa ekologi. Meski kemudian terbentuk jalinan protagonis dan antagonis hingga memunculkan dua pemaknaan yakni, sebagai sosok yang disakralkan dan sebagai sosok satwa ancaman yang merenggut korban jiwa, namun mampu menghantarkan Harimau Sumatera pada titik stratifikasi hewan tertinggi yang sungguh dihormati.
“Sampaikan pesan bahwa eksistensi Harimau Sumatera saat ini sedang tidak baik-baik saja. Jangan ganggu dia. Yang bernyawa punya hak sama untuk hidup nyaman dan aman di atas muka bumi ini. Jangan sampai ia menyusul saudaranya dari tanah Bali dan Jawa. Mati, punah lalu kini hanya berwujud simbol saja”
Semoga